Kumbang99 Blog

Just another WordPress.com weblog

SEJARAH BANDUNG Januari 16, 2010

Filed under: Kumbang Asal Usul — kumbang99 @ 8:37 pm

Kata “Bandung” dalam bahasa Sunda identik dengan kata damping dalam bahasa Indonesia yang bermakna ‘berdampingan atau berpasangan’. Dari kata bandung diturunkan beberapa kata lain seperti ngabandung yang berarti ‘berdampingan’.

Kata bandungan bermakna: (1) dua perahu disatukan secara berdampingan; (2) menyuruh seseorang supaya memperhatikan dan menyimak. Kata ngabandungan bermakna ‘menyimak orang yang berbicara, membaca, atau mengajar dengan penuh perhatian’. Kata Bale bandung dahulu bermakna ‘tempat mendengarkan perintah raja’. Kini dijadikan nama kecamatan di wilayah Kota Bandung.

Kata bandung juga berasal dari kata bandeng yang berarti ‘besar’ atau ‘luas’. Dalam bahasa Sunda ngabandeng berarti sebutan untuk genangan air yang luas dan tampak tenang. Ada juga yang menyatakan bahwa bandung berasal dari kata bendung yang berkaitan dengan peristiwa terbendungnya sungai Citarum sehingga menjadi danau besar (talaga) yang disebut “Danau Bandung” (Talaga Bandung).

Pada awalnya nama Bandung sebagai kabupaten bernama “Tatar Ukur”, yang merupakan daerah Kerajaan Timbanganten dengan ibukota di Tegalluar. Kerajaan itu berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda-Pajajaran. Secara turun-temurun kerajaan Timbanganten diperintah oleh Prabu Pandaan Ukur, Dipati Agung, dan Dipati Ukur. Pada masa pemerintahan Dipati Ukur, Tatar Ukur meliputi sembilan wilayah dengan sebutan “Ukur Sasanga”.
Sebelum berdiri Tatar Ukur, telah berdiri Sumedang Larang dengan ibukotanya  Kutamaya  pada tahun 1580 sebagai penerus Kerajaan Pajajaran yang runtuh tahun 1579. Wilayah kekuasaannya meliputi seluruh Priangan, kecuali wilayah Galuh.

Pada tahun 1620, ketika Sumedanglarang dipimpin oleh Raden Suriadiwangsa, anak tiri Prabu Geusan Ulun dari Ratu Harisbaya, Sumedang menjadi daerah kekuasaan Mataram. Sejak itu, status kerajaan Sumedang berubah status menjadi kabupaten. Mataram menjadikan Priangan sebagai pertahanan Mataram di sebelah barat dari serangan Banten dan kompeni di Batavia. Oleh karena itu, Sultan Agung (1613-1645) mengangkat Raden Suriadiwangsa menjadi Bupati Wedana (bupati kepala) di Priangan (1620-1624) dengan gelar pangeran Rangga Gempol Kusumahdinata atau Rangga Gempol I.

Ketika wilayah Priangan dipegang oleh Dipati Ukur Wangsanata, dia diperintahkan oleh Sultan Agung untuk menyerang Batavia bersama-sama tentara Mataram di bawah pimpinan Tumenggung Bahurekso, Dipati Ukur membawa sembilan umbul.Tetapi Dipati Ukur   gagal   dalam     penyerangan   itu.   Ia   bersama sebagian tentaranya mengundurkan diri ke Gunung Pongporang yang terletak di Bandung Utara dekat Gunung Bukitunggul. Tindakannya dianggap oleh Mataram sebagai pemberontakan sehingga Dipati Ukur dikejar-kejar tentara Mataram. Hal ini disebabkan karena Sultan Agung telah memerintahkan prajuritnya untuk menangkap Dipati Ukur hidup atau mati dengan suatu perjanjian, yakni barangsiapa yang berhasil menangkap Dipati Ukur akan diberi anugerah.

Pada waktu itu yang menjadi bupati wedana di Priangan sebagai pengganti Dipati Ukur adalah Pangeran Rangga Gede, dan diminta untuk menangkap Dipati Ukur, tetapi tidak berhasil karena dia meninggal pada waktu menjalankan perintah itu.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s