Kumbang99 Blog

Just another WordPress.com weblog

SEJARAH BOGOR Januari 16, 2010

Filed under: Kumbang Asal Usul — kumbang99 @ 9:11 pm

Pada masa ibukota kerajaan Pajajaran dibumihanguskan pasukan Banten pada tahun 1579, disebutkan bahwa seluruh ibukota kerajaan dihancurluluhkan dan penduduknya banyak yang dibunuh atau diusir dari kerajaan. Ada sekitar 40 orang pengisi keraton dan penjaga keraton bersama rajanya dapat meloloskan diri ke wilayah sebelah selatan Bogor, yakni ke daerah Kanekes atau Baduyu sekarang. Konon warga kerajaan yang meloloskan diri itu menjadi suku Baduy atau Kanekes, yang bertempat tinggal di Kapuunan Cibeo, Kapuunan Cikeusik, dan Kapuunan Cikertawana.

Setelah satu abad hilang dari percaturan sejarah,  kota yang pernah berpenghuni 50.000 jiwa itu menggeliat kembali menunjukkan ciri-ciri kehidupan. Reruntuhan kehidupannya mulai tumbuh kembali berkat ekspedisi yang berturut-turut dilakukan oleh Scipio pada tahun 1687, Adolf Winkler tahun 1690 dan Abraham van Riebeeck tahun 1704, 1704 dan 1709. Sersan Scipio dibantu oleh Letnan Patinggi dan Letnan Tanujiwa, seorang Sunda keturunan Sumedang.

Sejak Banten berada di bawah kontrol VOC tahun 1695, juga kekuasaan Mataram atas Priangan lepas ke tangan VOC tahun 1705, wilayah bekas ibukota Pajajaran berada dalam pengawasan VOC. Di dalam memanfaatkan wilayah yang dikuasainya, VOC tentu saja perlu mengenal suatu wilayah tersebut terlebih dahulu.

Dari ekspedisi tersebut tidak ditemukannya pemukiman di bekas ibukota kerajaan, kecuali di Cikeas, Citeureup, Kedung Halang dan Parung Angsana. Pada tahun 1687 juga, Tanujiwa yang mendapat perintah dari Camphuijs untuk membuka hutan Pajajaran, akhirnya berhasil mendirikan sebuah perkampungan di Parung Angsana, yang diberi nama Kampung Baru. Tempat inilah menjadi cikal bakal tempat kelahiran Kabupaten Bogor. Kampung-kampung lain yang didirikan oleh Tanujiwa bersama anggota pasukannya adalah Parakan Panjang, Parung Kujang, Panaragan, Bantar Jati, Sempur, Baranang Siang, Parung Banteng, dan Cimahpar. Pada waktu itu Kampung Baru menjadi semacam Pusat Pemerintahan bagi kampung-kampung lainnya.

Dokumen tanggal 7 November 1701 menyebut Tanujiwa sebagai Kepala Kampung Baru dan kampung-kampung lain yang terletak di sebelah hulu Ciliwung. Tanujiwa telah ditunjuk sebagai pemimpin kaum koloni di daerah itu. Atas dasar itulah, De Haan memulai mendaftarkan bupati Kampung Baru atau Buitenzorg dari tokoh Tanujiwa (1689-1705).
Pada tahun 1745 sembilan buah kampung digabungkan menjadi satu pemerintahan di bawah Kepala Kampung Baru yang diberi gelar Demang. Gabungan kesembilan kampung inilah yang disebut Regentschap Kampung Baru, yang kemudian menjadi Regentschap Buitenzorg. Pada tahun 1750, sewaktu masa pemerintahan Gubernur Jenderal Baron van Imhoff, dibangunlah tempat peristirahatan, lokasinya berada pada Istana Bogor sekarang yang diberi nama Buitenzorg.

Pada tahun 1754, Bupati Kampung Baru, Demang Wiranata mengajukan permohonan kepada Gubernur Jenderal Jacob Mossel agar diijinkan mendirikan rumah tempat tinggal di Sukahati, terletak di Timur Cisadane dekat Cipakancilan yang lokasinya dekat empang besar. Nama Empang selanjutnya berangsur-angsur mendesak nama Sukahati, yang akhirnya pada 1815 secara resmi nama daerahnya adalah Empang. Dengan dibukanya jalur hubungan kereta api antara Batavia dan Buitenzorg pada tahun 1873, sangat mempengaruhi mobilitas sosial dan perekonomian kota.

Konon di sekitar wilayah Buitenzorg pada waktu itu banyak pohon enau atau kawung. Pohon-pohon tersebut cukup mengganggu keindahan wilayah sehingga banyak yang ditebang. Akibatnya, di wilayah tersebut banyak tunggul kawung. Masyarakat sekitarnya pada waktu itu menyebut tunggul kawung dengan sebutan “bogor” atau “pogor”. Sejak itulah, nama Buitenzorg jarang dipakai lagi karena berubah nama menjadi Bogor hingga sekarang.

KOTA BOGOR

Setelah pemerintahan kembali kepada pemerintah Belanda pada tahun 1903, terbit Undang-Undang Desentralisasi yang menggantikan sistem pemerintahan tradisional dengan sistem administrasi pemerintahan modern, yang menghasilkan Gemeente Buitenzoorg.
Pada tahun 1925, dibentuk provinsi Jawa Barat (provincie West Java) yang terdiri dari 5 karesidenan, 18 kabupaten dan kotapraja (stadsgemeente). Buitenzoorg menjadi salah satu stadsgemeente.

Pada masa pendudukan Jepang pada tahun 1942, pemerintahan Kota Bogor menjadi lemah setelah pemerintahan dipusatkan pada tingkat karesidenan.
Pada tahun 1950, Buitenzorg menjadi Kota Besar Bogor yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 16 tahun 1950.
Pada tahun 1957, nama pemerintahan diubah menjadi Kota Praja Bogor, sesuai Undang-Undang nomor 1 tahun 1957.
Kota Praja Bogor berubah menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II Bogor, dengan Undang-Undang nomor 18 tahun 1965[4] dan Undang-Undang nomor 5 tahun 1974.
Kotamadya Bogor berubah statusnya menjadi Kota Bogor pada tahun 1999 dengan berlakunya Undang-Undang nomor 22 tahun 1999.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s