Kumbang99 Blog

Just another WordPress.com weblog

Bahaya Laten Televisi Januari 18, 2010

Filed under: Kumbang Kesehatan — kumbang99 @ 10:39 am

Musim hujan yang mengguyuri hari-hari saat ini tak pelak membuat waktu kita di luar rumah sangat menyusut. Daripada ribet kehujanan, terkena ancaman flu, atau berbasah ria, aktivitas pun banyak dilakukan di dalam ruang.

Selain bercengkerama bersama keluarga, apalagi kalau bukan nonton acara-acara televisi. Aneka saluran televisi, bahkan yang berbayar pun kian murah, bisa mengusir kebosanan. Tapi tahukah Anda, bahwa menonton televisi terus-menerus menyimpan ancaman tersembunyi?

Sebuah penelitian terbaru yang dilansir Psych Central, Senin pekan lalu, menunjukkan bahwa tiap jam di depan televisi saban hari menyimpan 11 persen risiko lebih cepat meninggal dan risiko kematian karena penyakit kardiovaskuler.

Adalah sejumlah periset Australia, yang mencermati kebiasaan gaya hidup 8.800 orang dewasa dan menemukan bahwa tiap 2 jam dihabiskan nongkrong nonton televisi saban hari berasosiasi dengan:
– peningkatan 11 persen risiko kematian akibat beragam penyakit.
– peningkatan 9 persen risiko kematian akibat kanker.
– peningkatan 18 persen risiko penyakit kardiovaskuler yang berujung pada kematian (CVD).

Dibandingkan dengan orang-orang yang menonton televisi 2 jam per hari, mereka yang menonton lebih dari 4 jam per hari ternyata 46 persen berisiko meninggal lebih dini akibat sejumlah penyakit dan 80 persen lebih tinggi berisiko terkena penyakit kardiovaskuler.

Hubungan temuan itu tanpa memperhitungkan faktor-faktor risiko kardiovaskuler biasa dan penyebab independen yang lain, termasuk merokok, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diet tak sehat, dan sakit pinggang akut.

Bila studi tersebut difokuskan secara spesifik pada hobi menonton televisi, penemuan itu menduga bahwa kebiasaan duduk terus-menerus dalam waktu lama, seperti duduk bekerja di depan meja atau di depan komputer, mungkin berisiko sama terhadap kesehatan seseorang.

Para periset mewawancarai 3.846 pria serta 4.954 perempuan berusia 25 tahun ke atas yang menjalani tes gula darah oral dan bersedia dites sampel darah, sehingga dapat diukur seperti kadar kolesterol serta gula darah. Para partisipan diteliti sepanjang 1999-2000 dan dilanjutkan hingga 2006.

Mereka melaporkan kebiasaan menonton televisi selama tujuh hari dan dikelompokkan ke dalam satu dari tiga kategori: mereka yang menonton kurang dari 2 jam per hari, mereka yang memelototi layar TV selama 2-4 jam per hari, dan mereka yang menonton lebih dari 4 jam saban hari. Studi itu mengesampingkan orang-orang yang memiliki riwayat penyakit kardiovaskuler.

David Dunstan, PhD, pemimpin riset dan profesor kepala laboratorium aktivitas fisik di Division of Metabolism and Obesity di Baker IDI Heart and Diabetes Institute di Victoria, Australia, mengatakan tubuh manusia dirancang buat bergerak. Bukan buat duduk dalam waktu periode lama.

“Apa yang terjadi adalah bahwa banyak aktivitas normal kehidupan sehari-hari, seperti berdiri dan pergerakan otot-otot tubuh, telah diganti dengan (kebiasaan) duduk,” ujar Dunstan, Senin pekan lalu.

Profesor Dunstan prihatin karena kenyataan itu sebagai efek samping kemajuan teknologi. “Perubahan teknologi, sosial, dan ekonomi membuat manusia malas menggerakkan otot-otot mereka. Banyak orang saban hari simpelnya hanya berpindah dari satu kursi ke kursi yang lain. Dari kursi di mobil ke kursi di kantor, lalu akhirnya kursi di depan televisi di rumah,” tuturnya.

Dunstan menambahkan, penemuan mereka aplikasinya tak hanya terhadap individu-individu yang punya tubuh subur dan mengalami obesitas, tapi juga berlaku bagi mereka yang beratnya ideal.

“Bahkan, jika seseorang mempunyai berat tubuh sehat, duduk-duduk dalam periode lama tetap sebuah kegiatan yang berpengaruh tak sehat atas gula darah dan tekanan darah mereka,” Dunstan menambahkan.

Meskipun studi tersebut dilakukan di Australia, Dunstan menjamin temuan mereka juga pasti bisa diterapkan kepada orang-orang Amerika. Rata-rata aktivitas menonton televisi harian di Australia dan Inggris Raya mencapai 3 jam, lebih dari 8 jam di Amerika Serikat, di mana dua pertiga dari seluruh orang dewasanya mengalami kegemukan.

Keuntungan-keuntungan berolahraga telah lama diakui, tapi para periset ingin tahu apa jadinya bila orang duduk terlalu lama. Nongkrong di depan televisi adalah aktivitas yang paling sering terjadi di rumah.

Nah, akhirnya jangan sampai kegiatan tersebut benar-benar menjelma menjadi kebiasaan, menjadi hobi, bahkan candu. Selingilah dengan kegiatan bila sudah 1 jam asyik menonton. Atau lebih baik matikan saja. Ganti dengan menggerakkan badan. Profesor Dunstan menegaskan, “Terlalu banyak duduk buruk buat kesehatan. Tanamkan dalam benak: ayo bergerak, lagi, dan lagi.”
l American Heart Association/Psych Central/Dwi Arjanto

Defisit Tidur Bisa Kronis

WASHINGTON — Anda suka begadang? Kebablasan melek karena menonton layar gelas? Satu malam tidur nyenyak pada hari berikutnya ternyata tak cukup buat mengembalikan defisit tidur yang kronis. Demikian penelitian di Amerika Serikat, Rabu lalu.

Penelitian yang muncul di jurnal Science Translational Medicine teranyar itu menunjukkan bahwa malam-malam yang minim tidur saat irama tubuh bilang sudah saatnya terlelap, secara kumulatif berdampak buruk. “Kekurangan tidur terhadap siklus multi-bangun menyebabkan performa tubuh anjlok lebih cepat setiap waktu kita habiskan ketika bangun, terutama selama terjaga malam,” kata pemimpin penelitian Dr Daniel Cohen dari RS Brigham di Boston.

Rata-rata orang dewasa butuh 8 jam tidur. Cohen, yang juga ahli saraf, menuturkan, penelitian timnya terhadap sembilan orang sehat yang menjejak dampak kombinasi kehilangan waktu tidur, melek kronis, dan ritme jam biologisnya.

Cohen menyebutkan, para periset tahu bahwa tiga hari belum cukup buat mengembalikan lenyapnya waktu tidur. Tapi mereka masih belum tahu berapa banyak hari atau pekan yang dibutuhkan buat membayarnya.
Orang-orang mungkin tak sadar bahwa mereka menderita banyak utang tidur karena hal itu berkembang selama berminggu-minggu.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s