Kumbang99 Blog

Just another WordPress.com weblog

Pokok Sengketa Herman Sarens Vs TNI (1) Januari 20, 2010

Filed under: Kumbang News — kumbang99 @ 11:53 am

Kisruh antara Markas Besar TNI dan salah seorang pensiunan jenderalnya, Brigjen TNI (Purn) Herman Sarens Sudiro, terasa mengejutkan publik. Tanpa paham latar belakang perseteruan itu, tiba-tiba publik disuguhkan drama negosiasi alot antara sejumlah pasukan Polisi Militer Kodam Jaya dan pihak keluarga Herman yang berlangsung lebih dari 24 jam di kediaman Herman di Perumahan Telaga Golf, Bumi Serpong Damai, Tangerang.

Pokok persoalan yang mengemuka pun hanya sedikit terkuak. Saat negosiasi berlangsung pada Senin (18/1/2010), salah seorang staf Herman sempat membagikan dokumen menyangkut kepemilikan tanah di Jalan Warung Buncit Raya Nomor 301, Jakarta Selatan. Intinya, dalam dokumen itu, Herman memaparkan sejumlah data yang menguatkan kepemilikan tanah atas namanya.

Hari ini, Selasa (19/1/2010), Markas Besar TNI menjelaskan duduk perkara sengketa yang melibatkan mantan Duta Besar Indonesia untuk Madagaskar itu. Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI Marsekal Muda Sagom Tamboen menegaskan, tanah di Jalan Warung Buncit Raya Nomor 301, Jakarta Selatan, seluas 29.085 meter persegi adalah milik TNI atau Dephankam/ABRI pada masa lalu. Tanah itu merupakan hasil pengadaan atau pembelian Hankam ABRI dan hibah dari Hankam ABRI yang diberi perseorangan secara sukarela.

Ceritanya, lanjut Sagom, pada tahun 1970 seorang warga bernama Ngudi Gunawan menghibahkan tanah seluas 19.270 meter persegi kepada ABRI. Herman yang kala itu berpangkat kolonel mewakili ABRI menerima hibah tersebut.  Selanjutnya, pada tahun yang sama, ABRI membeli tanah seluas 2.295 meter persegi. Pada tahun berikutnya, 1971, ABRI kembali membeli tanah seluas 7.520 meter persegi. Semua tanah tersebut berada di bawah pengawasan Herman.

Menurut Sagom, sebagai pengawas, Herman Sarens yang saat itu menjabat sebagai Dankorma Hankam seharusnya mendaftarkan tanah ABRI yang totalnya 29.085 meter persegi tersebut ke Kantor Agraria (BPN) untuk mengubah status tanah menjadi milik Dephankam atau Mabes ABRI.

Alih-alih mengubah status kepemilikan tanah atas nama institusi, Herman diduga berusaha menguasai hak milik tanah tersebut. “Dia harusnya menyelesaikan surat-surat (kepemilikan atas nama Dephankam atau Mabes ABRI). Bukannya dikirim ke BPN, tapi yang bersangkutan berusaha menguasai tanah,” kata Sagom.

Menurut Sagom, Herman memecah kepemilikan tanah hibah Ngudi Gunawan seluas 19.270 meter persegi itu menjadi enam sertifikat tanah atas nama Artini (ibu Herman), Hadidjah (istri kedua Herman), Teddy Abdul Rochim (anak Herman), Engkos Sumarna (eks staf logistik Korma Hankam), Didi Sukardi (sopir Herman), dan atas nama Herman Sarens sendiri.

“(Tanah itu) seolah-olah dijual kepada Engkos dan Didi (yang adalah) sopirnya Pak Herman sendiri. Tapi, ternyata kedua orang ini mengaku tidak pernah membeli tanah sepeser pun,” ujar Sagom.

Selanjutnya, kecurigaan atas dugaan penyelewengan tersebut diselidiki oleh Polisi Militer sambil terus dilakukan pendekatan dengan Herman secara kekeluargaan. “Upaya kekeluargaan tidak dihentikan. Tahun 1989 (ABRI dan Herman) masih komunikasi. Tahun 1990 Oditurat mengadakan pendekatan. Tahun 1995 komandan detasemen ABRI juga pendekatan, tapi enggak ada hasilnya sehingga satu-satunya jalan proses hukum,” tegas Sagom.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s