Kumbang99 Blog

Just another WordPress.com weblog

Mengaduk Cerita tentang Robot Gedek Februari 3, 2010

Filed under: Kumbang News — kumbang99 @ 11:03 am

Tersangka pelaku sodomi dan pembunuhan berantai terhadap anak jalanan, Baikuni alias Babeh menyebut nama Robot Gedek, alias Ciswanto. Siapa dia?

Perjalanan penuh kejutan Ciswanto (42 tahun) alias Robot Gedek telah berakhir dengan kematiannya dua  tahun lalu. Seperti kehidupannya yang penuh  kejutan, kematiannya pun berlangsung mengejutkan. Setelah sakit dua  hari, dia menghadap-Nya. Dikabarkan, Robot Gedek sakit setelah mendengar kabar dari teman satu selnya, waktu  eksekusi sudah dekat membuat  terpidana mati kasus sodomi itu mendadak napasnya terasa sesak.

Beberapa teman sekamar, menurut seorang sipir yang bertugas di LP Batu, Nusakambangan, mencoba mengobati dengan mengurut kakinya. Namun, upaya itu tidak membuahkan hasil. Sesak napasnya makin berat. “Teman sekamarnya lalu  memberitahukan pada petugas yang berjaga dan kemudian melarikannya ke rumah sakit,” ujar petugas tadi.

Sejak Sabtu (24/3/2007), terpidana yang menyodomi sejumlah anak gelandangan dan kemudian membunuhnya itu, resmi  mendapat perawatan di RSUD Cilacap. Ia dirawat di Ruang Dahlia dengan penjagaan ketat. Selama sakit, yang  bersangkutan terus mendapat pengobatan dan pengawasan dari tim dokter.

Namun pada Senin (26/3/2007) pertolongan dari tim dokter di rumah sakit tersebut tak bisa membuat umur Robot Gedek  bertambah panjang. Pria yang dulu banyak menghabiskan hidup di rumah kumuhnya jalanan Jakarta itu semakin  sulit  bernapas. Robot Gedek akhirnya menemui ajal. “Dia memang sering mengeluh sakit pada dada sebelah kiri. Tapi,   tidak benar kalau dia stres memikirkan akan dieksekusi mati,” ujar Kepala LP Batu, Sudijanto ketika itu.

Sudijanto mengungkapkan, Robot Gedek memang divonis mati oleh PN Jakpus. Namun, sampai menjelang kematian Robot  Gedek, pihaknya belum menerima pemberitahuan rencana eksekusinya. Kabar yang beredar — yang menyebutkan terpidana  sakit lantaran memikirkan rencana eksekusi — dinilainya tidak benar. “Dia memang mau dieksekusi mati karena  vonisnya memang itu, tapi kapan akan dilaksanakan pihak kejaksaan selaku eksekutor belum pernah menghubungi kami,”  ungkap Sudijanto. Yang Jelas, proses persiapan eksekusi itu memerlukan waktu lama.

Sudijanto mengungkapkan dalam beberapa tahun terakhir, yang bersangkutan memang sering sakit-sakitan. Keluhannya  hanya pada bagian dada sebelah kiri. Puncaknya pada Sabtu 24/3/2007, ia mendapat kabar jika terpidana mati itu  sakit pada bagian dada kiri. Karena sakitnya perlu mendapat perawatan khusus, dokter LP yang memeriksa kemudian

meminta agar Robot dirujuk ke RSUD Cilacap. Tapi, Senin siang sekitar pukul 13.00 jiwanya tidak tertolong. Berita kematian Robot Gedek, segera disampaikan kepada keluarganya di Pekalongan, Jateng. Hanya berselang dua jam  dari kematian, jenazah Robot Gedek langsung dibawa ke Pekalongan untuk dimakamkan. Selama di Nusakambangan, Robot Gedek pernah mendekam di LP Permisan dan LP Batu. Dia menjadi penghuni LP Batu belum genap enam bulan.

Semula, Robot Gedek bukanlah siapa-siapa. Tak lebih, dia hanya manusia terpinggirkan yang terdampar di riuh  rendahnya Jakarta. Tiba-tiba dia menjadi berita besar pada sekitar 1997. Ketika itu ia berurusan dengan polisi  lantaran menjadi terdakwa sodomi pada sejumlah anak jalanan. Para korban tersebut selain disodomi juga dibunuh.

Dalam melakukan aksinya, tersangka selalu meninggalkan bukti kejahatan dengan menyilet perut korban. Dalam sesi penuntutan di persidangan yang digelar PN Jakpus, Robot Gedek menyatakan ketika membunuh bocah-bocah  itu dia tidak sadar dan seolah-olah berada dalam bayang-bayang. “Dalam bayangan saya, yang saya bunuh itu adalah  ayam,” ungkap dia waktu itu.

Dalam persidangan itu, dia memang dituntut hukuman mati. Begitu mendengar tuntutan itu, Robot Gedek pun langsung  menyatakan dirinya tidak mau dihukum mati. “Saya takut mati,” ungkap dia. Namun, pengadilan berkehendak lain.  Dalam persidangan yang berlangsung 21 Mei 1997, PN Jakpus menjatuhkan vonis mati.

Hakim yang menyidangkan kasus tersebut menyatakan Robot Gedek terbukti melakukan sodomi dan pembunuhan berencana  terhadap enam anak usia belasan tahun. Mereka kebanyakan gelandangan dan anak jalanan. Perbuatan sadis itu  dilakukan pelaku mulai 1994 hingga 1996. Mantan pengumpul barang bekas itu sempat mendekam di LP Cipinang Jakarta,  namun kemudian dipindahkan ke LP Nusakambangan.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s