Kumbang99 Blog

Just another WordPress.com weblog

Harimau Sumatera Diramalkan Punah 2015 Februari 7, 2010

Filed under: Kumbang News — kumbang99 @ 8:43 pm

Keberadaan harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Provinsi Riau diprediksi akan punah paling cepat pada 2015 akibat kehilangan habitat dan perburuan yang hingga kini terus menjadi ancaman utama.

“Dengan kondisi ancaman yang ada sekarang, harimau sumatera di Riau diperkirakan bisa punah paling cepat lima tahun lagi. Hal itu bisa berawal dari kepunahan ekosistem, di mana harimau yang tersisa tidak memungkinkan lagi untuk berkembang biak,” kata Koordinator Monitoring Perdagangan Satwa WWF Riau, Osmantri, Minggu (7/2/2010).

Berdasarkan data WWF, jumlah harimau yang berhasil diidentifikasi berdasarkan belangnya tinggal 30 ekor atau sekitar 10 persen dari jumlah populasi satwa liar itu di Pulau Sumatera.

Ancaman dari hilangnya habitat dan perburuan tidak sebanding dengan kemampuan harimau untuk berkembang biak. Seekor harimau betina diperkirakan bisa hidup di alam liar selama 15 tahun.

Selama masa hidupnya, tiap individu hanya bisa melahirkan sebanyak tiga kali. Parahnya, cuma dua ekor anak harimau yang maksimal bisa bertahan hidup sampai dewasa. Lemahnya penegakan hukum menjadi penyebab sulitnya memberantas aktivitas perburuan harimau.

Selama kurun waktu 1998-2009, telah ditemukan sebanyak 46 ekor harimau mati akibat konflik dengan manusia dan perburuan. Artinya, bisa dikatakan rata-rata sebanyak tujuh ekor harimau mati di Riau setiap tahun.

Namun, terjadi ketimpangan dalam proses pengusutan hukum karena hanya ada tiga kasus terkait perburuan harimau yang berakhir di pengadilan dalam periode waktu yang sama.

Kasus perburuan dan pembunuhan harimau pernah disidangkan di Riau, antara lain pada 2001, 2004, dan 2009. Pada kasus terakhir, persidangan kasus perburuan dan pembunuhan harimau bertempat di Pengadilan Negeri Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir.

“Tapi bisa dikatakan hukuman yang dijatuhkan hakim tidak menimbulkan efek jera karena semua vonis kepada pelaku hanya penjara selama setahun,” katanya.

“Penegakan hukum terhadap perburuan dan pembunuhan harimau di Riau paling lemah di antara daerah lainnya di Sumatera,” lanjut Osmantri.

Untuk perdagangan kulit harimau, biasa menggunakan jaringan antarprovinsi yang terjalin sangat rapi dan sulit dilacak.

Jaringan perdagangan itu kerap dilindungi oleh oknum pemerintah hingga pemodal besar yang bermuara ke Singapura dan Malaysia.

Ia memperkirakan, hingga kini ada sedikitnya 24 pemburu harimau aktif yang menyalurkan hasil buruan ke 34 penampung dari yang kecil hingga penampung besar.

Di Pekanbaru, ujarnya mencontohkan, sedikitnya ada sembilan toko emas dan dua toko obat china yang menjual bagian tubuh harimau dengan leluasa.

Harimau Sumatera Tinggal 300 Ekor

Jumlah harimau sumatera (Phantera tigris Sumatrae) di hutan-hutan Pulau Sumatera semakin menciut dari hari ke hari. Pada tahun 1978—sebelum hutan dirusak oleh perambahan atau pembukaan hutan untuk HPH, HTI, dan perkebunan—jumlah harimau sumatera mencapai 1.000 ekor. Setelah 32 tahun berlalu, harimau sumatera diperkirakan mencapai 300 ekor lagi.

Program Manager WWF Riau Suhandri menyampaikan data itu dalam diskusi “Penyelamatan Harimau Sumatera” di Pekanbaru, Jumat (5/2/2010) petang. Menurut Suhandri, faktor berkurangnya harimau sumatera disebabkan berbagai faktor, tetapi yang paling utama adalah menciutnya lahan hutan. Selain itu, perdagangan bagian tubuh harimau ikut menyumbang berkurangnya populasi hewan langka yang dilindungi.

“Selain berkurangnya lahan hutan, faktor pemburuan harimau sangat signifikan mengurangi populasi. Kami mencatat ada 24 pemburu harimau yang aktif di Riau dan 71 pemburu yang sesekali turun. Di Riau juga ada 34 orang yang siap menampung bagian tubuh harimau, di Jambi tiga dan di Sumatera Barat sekitar empat orang. Di Riau, kami memperkirakan harimau tinggal 30 ekor lagi,” kata Suhandri.

Suhandri menambahkan, berdasarkan penelusuran WWF, sedikitnya ada sembilan toko emas yang memperdagangkan bagian tubuh harimau, seperti kuku, taring, dan kulit. Selain itu, terdapat dua pedagang obat yang menjual bagian tubuh harimau untuk obat.

“Selama 2004 sampai 2006 sebanyak 15 ekor harimau terbunuh. Angka itu masih jauh lebih besar lagi karena tahun 2009 saja sedikitnya empat ekor harimau mati di Kabupaten Indragiri Hilir, Riau,” tambah Suhandri.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Bidang Teknis Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau Syahimin mengungkapkan, pihaknya merasa prihatin dengan berkurangnya populasi harimau. Secara berkala, BBKSDA Riau bekerja sama dengan WWF kerap melakukan aksi untuk penyelamatan hewan liar itu.

“Kami mendorong agar pelaku pembunuhan harimau mendapat hukuman yang lebih berat seperti kasus kematian empat ekor harimau di Indragiri Hilir beberapa waktu lalu. Berdasarkan UU No 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, perihal pembunuhan atau perdagangan bagian tubuh harimau sebenarnya sudah diatur tegas. Tentang informasi adanya sembilan toko emas di Pekanbaru yang menjual bagian tubuh harimau akan kami telusuri,” kata Syahimin.

Pada masa mendatang, kata Suhandri, penyelamatan harimau di Riau akan semakin sulit dilakukan. Pasalnya, hutan yang disisakan untuk harimau hanya terdapat di kawasan hutan konservasi, sesuai Rencana Tata Ruang/Wilayah Provinsi Riau yang akan disahkan dalam waktu dekat. Padahal, dari berbagai penelitian yang dilakukan WWF, harimau masih ditemukan di beberapa hutan produksi atau hutan HTI.

“Berdasarkan penelitian kami, setidaknya ada enam ekor harimau terdapat di luar hutan konservasi di antara Hutan Taman Nasional Tesso Nilo dan Bukit Tigapuluh. Kami mengusulkan agar di jalur itu dapat dibuat koridor hutan untuk hidup harimau. Kami sangat berharap, perusahaan yang memiliki izin HPH atau HTI di Riau yang masih memiliki populasi harimau mau ikut serta membangun koridor hutan untuk penyelamatan harimau,” kata Suhandri.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s