Kumbang99 Blog

Just another WordPress.com weblog

Musim Dodol Telah Tiba Februari 7, 2010

Filed under: Kumbang News — kumbang99 @ 10:28 pm

Menjelang Imlek, para pembuat dodol dan kue keranjang bisa tersenyum lebar. Saat itulah, pesanan kue bulat manis-legit tersebut mengalir deras.

“Kami harus kerja siang-malam agar bisa memenuhi pesanan,” kata Iin Lauw Kim atau Wee In Niong (50), pembuat dodol dan kue keranjang di kawasan Pintu Air, Neglasari, Tangerang, Banten.

Saat ditemui pada hari Rabu (3/2/2010), Iin bersama anak dan suaminya sedang sibuk melayani seorang pemesan kue di ruang tengah rumahnya yang penuh dodol dan kue keranjang merek Ny Lauw-Kim Wee. “Ini semua pesanan orang,” tambah Iin.

Perempuan putih bersih itu mengatakan, dua puluh hari menjelang Imlek, pesanan mulai berdatangan. Sejak saat itulah, rumah tinggalnya tiba-tiba berubah menjadi pabrik dodol dan kue keranjang yang juga disebut kue china atau dodol china.

Halaman depan dan belakang rumah disulap menjadi dapur produksi. Di sana, sekitar sepuluh lelaki secara bergantian mengaduk empat kuali besar berisi adonan kue keranjang dan dodol yang liat dan beraroma harum. Proses pembuatan kedua jenis kue ini bisa berlangsung sekitar 8 jam hingga 15 jam!

Di teras depan, puluhan perempuan menyiapkan cetakan bulat kue keranjang dalam berbagai ukuran sambil ngobrol ngalor-ngidul, mulai kisah sinetron sampai harga kebutuhan pokok yang naik melulu.

Suasana seperti ini hanya terjadi setahun dua kali, yakni menjelang Imlek dan Lebaran. “Maklumlah, ini kan usaha musiman. Di luar Imlek dan Lebaran, kami tidak bikin dodol dan kue keranjang,” kata Iin.

Menjelang Imlek tahun ini, Iin memproduksi sekitar satu ton (1.000 kilogram) kue keranjang dan 300 kilogram dodol sehari. Menjelang Lebaran, produksi kue keranjangnya hanya sekitar 200 kilogram.

Tahun ini, dia menjual kue keranjang produksinya seharga Rp 140.000 per susun dengan berat 7 kilogram, sedangkan dodol Rp 7.500 per batang dengan berat sekitar setengah kilogram. Berapa untungnya? “Ah, lumayanlah,” kata Iin.

Manisnya rezeki Imlek juga dirasakan Jaya (42), perajin dodol dan kue keranjang merek Cap Dewa Dapur Ny Hidup di Jalan Sukasari, Kota Tangerang, Banten. Sejak 16 Januari, dia mulai sibuk membuat dodol dan kue keranjang untuk langganannya yang totalnya mencapai 2.500 kilogram sebulan. Jaya menjual kue keranjang buatannya Rp 23.000 per kilogram.

Sudah tradisi

Bisnis dodol dan kue keranjang adalah bagian dari tradisi tahunan menjelang Imlek. “Sejak masih kecil kami sudah bikin kue keranjang dibantu tetangga dekat. Pesanan dari pelanggan juga selalu datang. Jadi, kalau tidak bikin, rasanya enggak enak,” kata Iin.

Iin dan suaminya, Lauw Kim Tai, membuka sendiri usaha pembuatan kue keranjang sejak empat tahun lalu. Sebelumnya, Lauw Kim Tai membantu ibunya membuat dodol di rumah ibunya, Siti Lauw atau dikenal dengan sebutan Nyonya Lauw.

Bisnis musiman ini sendiri sudah ditekuni keluarga Lauw sejak 1962. Pelaku awalnya adalah Lauw Soen Lim, kakek Lauw Kim Tai. Usaha ini kemudian turun ke Lauw Nyim Keng dan Siti Lauw, orangtua Lauw Kim Tai.

Selanjutnya, usaha musiman ini diturunkan kepada 4 dari 10 anak Siti Lauw, termasuk Lauw Kim Tai. Keempatnya menggunakan merek yang sama, yakni Ny Lauw. “Bedanya, di belakang merek Ny Lauw diberi strip nama masing-masing. Kue keranjang kami mereknya menjadi Ny Lauw-Kim Wee,” kata Iin.

Jaya juga melanjutkan usaha musiman orangtuanya, yakni Nyonya Hidup. Meski begitu, Jaya mengaku memulainya dari nol. “Setelah kerusuhan Mei 1998, pelanggan (kue keranjang) orangtua saya menghilang,” ujar Jaya.

Jaya pun harus mencari pelanggan baru. Dia memulai usahanya dengan memproduksi 200 kilogram kue keranjang. Lama-kelamaan usaha ini berkembang. Tahun 2009, produksi kue keranjangnya menjelang Imlek sekitar 2.000 kilogram. Tahun 2010 meningkat jadi 2.500 kilogram. “Tahun depan, kami akan tingkatkan produksi jadi 3.000 kg,” katanya.

Seperti Iin, Jaya juga mempekerjakan tetangga sekitarnya di Jalan Gunung Sibayak, Villa Tangerang Indah. Dengan begitu, manisnya rezeki Imlek ini bisa juga dicecap orang lain.

Dari tangan mereka, kue keranjang yang biasa dipersembahkan kepada Dewa Dapur ini dihasilkan. Para pedagang kemudian menyebarkan di sekitar Jabodetabek dan daerah lainnya.

sumber: http://megapolitan.kompas.com

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s