Kumbang99 Blog

Just another WordPress.com weblog

Yang Mana Anjing yang Mana Manusia? Februari 13, 2010

Filed under: Kumbang oase — kumbang99 @ 10:52 am

Anjing sudah tidak ada lagi. Masa, sih? Manusia yang sudah tidak ada. Oh, ya?

Tenang! Dua-duanya masih ada! Hanya saja jadi sulit dibedakan. Mana yang anjing mana yang manusia. Dua-duanya seperti sedang melakukan saling menjadi. Jika anjing mengalami domestikasi dari serigala dan manusia dari kera (?), sekarang (?) sepertinya antara anjing dan manusia sedang “saling menjadi,” minimal bertukar kepribadian. “Iya, nggak? Kok bisa?!”

Mungkin, sebagai sesama makhluk hidup, anjing dan manusia sama-sama dikenal sebagai makhluk sosial. Artinya, sama-sama punya kemampuan belajar, yang apabila dilatih, dididik akan “menjadi” seperti yang diinginkan. Nah, keduanya, kalau tidak salah, sedang saling mengintip sisi untungnya menjadi anjing dan menjadi manusia. Mana yang lebih menguntungkan? Minimal, sampai saat ini anjing masih terus mendekati manusia melalui kecerdasannya dalam hal kepatuhan dan pelayanan kepada manusia. Dan, dari waktu ke waktu anjing terus mendapat tempat dalam kehidupan dan pekerjaan manusia. Anjing, sepertinya nyaris menggeser peran kucing, kuda, dan lainnya.

Apakah ini pertanda sebuah puncak keberhasilan gerakan politik evolusi anjing untuk “mendekati atau menjadi manusia”? Semoga bukan, ya, dan semoga saja kesenangan manusia untuk mendandani anjing-anjing sebagaimana layaknya memperlakukan manusia bukan bagian dari keberhasilan anjing dalam menjadi manusia. Dengan kata lain, keberhasilan anjing “menjadi” manusia bukan keberhasilan tahap kedua anjing setelah sebelumnya berhasil mengalami domestikasi dari serigala.

Bisa jadi kemampuan yang berhasil dari anjing ini diperhatikan, lalu diam-diam ditiru dan kemudian menjadi sesuatu perilaku banyak orang. Mungkin mereka berpikir dengan menjadi sosok atau diri yang serba patuh, menjaga, dan melayani kepentingan sang tuan (seperti anjing) bisa didapatkan banyak keuntungan, baik materi, kekuasaan, dan kesenangan. Tidak masalah “menggonggong” demi sang tuan. Tidak masalah juga melayani dan menjaga demi kesenangan sang tuan selama bisa mendapatkan “tulang” dan “sisa makanan” dari sang tuannya.

Menjadi seperti anjing memang menarik. Banyak kelebihannya dibanding manusia. Secara fisik, anjing adalah sosok pemangsa, yang didukung oleh alat serang, gigit, dan kemampuan mencabik. Jadi sebagaimana nenek moyangnya serigala, anjing adalah sosok yang memiliki otot yang kuat, tulang pergelangan kaki yang bersatu, sistem kardiovaskuler yang mendukung ketahanan fisik serta kecepatan berlari. Terlepas pada perbedaan cara jalan, ciri-ciri fisik anjing juga menggiurkan untuk ditiru. Soalnya, sudah mulai banyak yang berpikir kalau kita tidak menyerang maka kitalah yang akan diserang. Jadi, menyerang duluan teruslah! Begitu, kan?

Ada lagi yang menjadi daya tarik anjing. Kemampuan anjing dalam hal daya penglihatan, indera pendengaran, dan indera penciuman yang melebihi manusia dipandang bisa menjadi kemampuan yang dibutuhkan saat ini untuk menghadapi kerasnya hidup dan kehidupan. Sepertinya mulai muncul pemahaman siapa yang lebih cepat mengetahui, lebih peka mendengar, dan lebih bagus dalam mencium peluang maka dialah yang akan menang dan menguasai dunia.

Buntut-buntutnya, nih, semuanya jadi menguntungkan. Dirasa bisa mendapat nilai besar. Apalagi didengar kabar yang bisa menyenangkan diri sendiri dan kelompok langsung diraih. Bila tidak bisa dengan cara mengambil hati sang tuan, langkah yang akan dilakukan adalah dengan cara menerkam dan mencabik-cabik. Pokoknya, yang ada di pikiran hanya serba untung. Yang lainnya cukup simbolik saja.

Dasar anjing! Meski punya kecerdasan dalam hal patuh dan melayani anjing tetap lebih banyak yang bersikap menyelamatkan diri sendiri. Memang, dengan struktur taringnya dan suara gonggongannya tampak ganas. Namun, jika dibalas gertak maka anjing pun akan lari tunggang langgang. Anjing juga suka beraninya nyerang secara keroyokan lewat belakang dan bila di serang balik akan cenderung menghindar sampai datang bantuan dari sang tuannya.

Nah, bagaimana kalau lagi ribut dengan sesama anjing? Bisa gawat! Bisa ribut sekampung dengan suara gonggongan dan lolongannya. Bisa bikin tidak tidur, apalagi kalau sudah urusan merebut pasangan kawin. Wah, bisa buat geram banget! Bawaannya ambil sebilah parang lalu keluar rumah untuk kejar itu anjing sambil teriak “Dasar, anjing! Sudahku bilang jangan menggonggong tetap saja kau menggonggong. Matilah, kau, anjing!!!.”

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s